Sejarah Kerajaan Gowa Tallo
Pada abad ke-7, kerajaan-kerajaan di Sulawesi terjebak dalam situasi menyedihkan, periode kegelapan Sianre Baleni Tauwe, musim perang yang tidak jelas siapa lawan, siapa kawan. yang menjadikan Sulawesi medan pertempuran neolitik terpanjang dalam sejarah dunia karena baru berakhir menjelang abad ke-14.
Di tanah Gowa, terbentuk persekutuan 9 raja kecil (Kasuwiyang Salapanga atau Bate Salapang: sembilan pengabdi atau sembilan pemegang bendera), yakni Tombolo, Lakiung, Samata, Parang-Parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, Kalling, dan Sero. Mereka menunjuk seorang Peccallaya (dewan hakim pemisah) yang membimbing 9 kerajaan untuk mencapai situasi damai, tetapi selalu gagal.
Atas inisiatif Peccallaya, kesembilan raja itu mengadakan kesepakatan untuk memohon kepada Dewata agar menurunkan seorang wakilnya. Konon, Dewata berbaik hati dan mewujudkannya. Benar saja, Tumanurung—secara leksikal berarti orang asing/tak dikenal yang muncul secara tiba-tiba dari suatu tempat diturunkan. Dialah yang diutus Dewata untuk memulai Imperium Gowa, seorang wanita cantik yang mendapatkan gelar Karaeng Sombaya ri Gowa.
Menurut Profesor Mattulada (tokoh inspiratif dalam sejarah Sulawesi Selatan yang mengabdikan hidupnya hingga akhir hayat di FIB UNHAS), “Gowa” berasal dari kata Gaori, yang artinya “penghimpunan” (menggambarkan proses terbentuknya Gowa sebagai persekutuan).
Dengan terbentuknya Kerajaan Gowa, otomatis kekuatan baru telah lahir. Dialah Tumapa’risi Kallona, Raja Gowa ke-9, yang memulai proyek pelebaran wilayah kekuasaan. Ia menyatukan kembali Kerajaan Gowa dan Kerajaan Tallo (yang awalnya memang bersatu, namun pada masa pemerintahan Tunarangka Lopi, Raja ke-6, dibagi untuk kedua putra mahkota demi keadilan). Pada masa pemerintahannya, Gowa berhasil menaklukkan Garassi, Pangkaje’ne, Sidenreng, dan hampir mencakup seluruh dataran Sulawesi Selatan.
Daeng Pamate, selaku Tumailalang (menteri urusan istana dalam dan luar negeri), berhasil menciptakan huruf Lontara Toriolo dari hasil modifikasi aksara India.
Raja ke-10, I Manriwagau Baeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng, meneruskan proyek pembangunan benteng dengan membangun dua benteng baru, yakni Benteng Barombong dan Ujung Tanah. Selama menjabat sebagai raja, ia mengalahkan banyak kerajaan di luar wilayah Sulawesi Selatan serta memulai peperangan terhadap Bone. Dari situ, nama Gowa mulai menakutkan bagi kerajaan-kerajaan di sekitarnya. Armada lautnya disegani di lautan Nusantara, bahkan perompak-perompak laut lebih memilih menjauh daripada berhadapan dengannya. Sebagai Raja Gowa ke-10, ia tergolong sukses pada masa jabatannya.
Raja Gowa ke-11, Karaeng Tunibatta, menggantikan kakaknya dan meneruskan perang terhadap Bone. Namun, masa pemerintahannya sangat singkat, hanya 40 hari. Ia tewas dalam perang karena kepalanya terpenggal oleh prajurit Bone. Pertumbuhan Gowa yang makin kuat secara tidak langsung mengancam Bone, sehingga Bone bersekutu dengan kerajaan-kerajaan Bugis lain untuk mengantisipasi serangan Gowa.
Raja Gowa ke-12, I Lolo Tamakana, menanggung permusuhan terhadap persekutuan Bone, Wajo, dan Soppeng. Akhirnya ia dibunuh oleh saudara kandungnya yang tidak dicatat dalam sejarah karena kegagalannya memimpin penyerangan.
Raja Gowa ke-13, Karaeng Tunipasulu, naik tahta pada usia 15 tahun setelah kematian ayahnya. Ia mengubah kerajaan menjadi tempat kekacauan, bahkan membunuh siapa saja yang dianggap menarik untuk dibunuh. Gowa saat itu mengalami krisis sosial mengerikan. Akhirnya, Karaeng Tunipasulu diturunkan secara paksa oleh para bangsawan istana dan diasingkan.
Pada masa pemerintahan I Mangngerangi Daeng Manrabbu Sultan Alauddin Tumenanga ri Gaukanna (Raja ke-14), terjadi perubahan identitas religi Kerajaan Gowa secara besar-besaran. Sang raja memeluk Islam, sehingga Gowa berubah menjadi sebuah kesultanan. Trio ulama asal Minangkabau, yaitu Abdul Makmur (Dato ri’ Bandang), Sulaiman (Dato ri’ Pattimang), dan Abdul Jawad (Dato ri’ Ditiro), adalah lulusan terbaik pendidikan keislaman Kesultanan Aceh yang mendapat tugas dari Sultan Johor untuk menyebarkan Islam.
Proses meyakinkan Raja Gowa ternyata tidak mudah. Trio ulama itu cukup kewalahan, apalagi harus merombak pola pikir pembuka adat kerajaan, yang alhasil dakwah mereka tidak membawa kemujuran. Daripada menambah masalah, dengan penuh perasaan bersahabat Raja Gowa menyarankan trio ulama itu berdakwah ke Kerajaan Luwu (adalah kerajaan tertua di Sulawesi Selatan dan semua raja-raja di Sulawesi Selatan percaya bahwa leluhur mereka berasal dari kerajaan tersebut) terlebih dahulu.
Proyek Islamisasi di Kerajaan Luwu sukses, tetapi hanya satu ulama yang kembali ke Gowa, yakni Dato ri’ Bandang. Dengan demikian, Dato ri’ Bandang mengabarkan kepada Raja Gowa bahwa raja dan hulubalang Kerajaan Luwu sudah masuk Islam, dan tak lama lagi seluruh rakyatnya otomatis menyusul. Berita ini cukup mengagetkan sehingga hadat Gowa mengadakan rapat dadakan. Hasil dari rapat itu adalah Raja Gowa secara resmi menyatakan penerimaannya terhadap Islam pada 22 September 1605. Dengan demikian, Kerajaan Gowa menjadi kesultanan, ialah Sultan Alauddin (I Mangngerangi Daeng Manrabbia Sultan Alauddin Tumenanga Ri Gaukanna) selaku raja ke-14.
Sejak itu, Islam menjadi agama resmi kerajaan. Bontoala, yang awalnya adalah perkampungan tawanan perang dan tempat tinggal sementara bagi kaum pendatang, berubah menjadi basis pengajaran Islam. Sekitar 30 tahun Islam menjadi agama resmi Gowa, Bontoala berhasil mencetak ulama tangguh. Dia pribumi asli dan seorang Bugis, yakni Syekh Yusuf Al-Makassari (Muhammad Yusuf bin Abdullah Abu Al-Mahasin At-Taj Khalwati Al-Makassaru). Tokoh ini membuktikan diri untuk penyebaran Islam hingga akhir hayat.
Adapun masjid pertama bernama Masjid Katangka yang sudah berdiri pada tahun 1603, 2 tahun sebelum raja masuk Islam, di mana pada saat itu pendidikan Islam menjadi wajib hukumnya bagi putra-putri bangsawan kerajaan, apalagi calon raja atau sultan berikutnya.
Kemudian pada masa kerajaan Raja Gowa ke-15, Sultan Muhammad Said, berkuasa. Ia terkenal sabar, pandai berbahasa asing, memahami tata pemerintahan, dan menguasai konsep ekonomi makro. Di sisinya ada Karaeng Pattingaloang (Raja Tallo ke-8) sebagai Pabbicara (perdana menteri). Mereka adalah pasangan pemimpin potensial yang membawa Kerajaan Gowa ke puncak kejayaan. Sultan Muhammad Said bersahabat dengan raja Inggris, Spanyol, Portugis, India, dan para pemimpin di Mekkah. Ia dikenal sebagai pemimpin budiman dan bijaksana. Pada 26 Juli 1637, ia menandatangani perjanjian persahabatan dengan Gubernur Jenderal Belanda, Antonio van Diemen. Sayangnya, inilah satu-satunya kesalahan fatal dalam hidupnya.
Kekuasaan kemudian dilanjutkan oleh Raja ke-16, Karaeng Bonto Mangngape Sultan Hasanuddin Tumenanga ri Ballapangka, yang dikenal sebagai Sultan Hasanuddin atau Ayam Jantan dari Timur. Di bawah kepemimpinannya, Gowa berhasil menambah empat kerajaan bawahan, yakni Luwu, Wajo, Soppeng, dan Bone. Ia memerintahkan rakyat membangun tiga benteng baru, yaitu Mariso, Bonto Marannu, dan Bayoa, serta memperkuat semua benteng dengan batu. Pada masa ini, Gowa dilengkapi persenjataan modern.
Perang besar yang ditunggu-tunggu pecah pada tahun 1666, yakni peperangan antara Sultan Hasanuddin dan VOC Belanda yang dibantu Arung Palakka dari Bone. Pada akhirnya, Sultan Hasanuddin dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya pada 18 November 1668 sebagai akhir resmi perlawanan terhadap Belanda. Perjanjian itu membuat kerajaan-kerajaan bawahan Gowa dibebaskan oleh Belanda.
Setelah Perjanjian Bongaya 18 November 1668, kekuasaan Kesultanan Gowa merosot tajam. Wilayah kekuasaan yang dulu luas dan disegani di Nusantara berkurang drastis karena VOC membebaskan kerajaan-kerajaan bawahan seperti Bone, Wajo, dan Soppeng.
Benteng Somba Opu yang menjadi pusat pertahanan akhirnya jatuh pada 12 Juni 1669. Sultan Hasanuddin, yang sebelumnya tak pernah mau tunduk, terpaksa turun tahta. Beliau wafat setahun kemudian, 12 Juni 1670, di Katangka.
Setelah itu, kekuasaan Gowa hanya berpusat di wilayah inti, dan pengaruhnya terus melemah akibat tekanan Belanda. Kerajaan Tallo juga mengalami nasib serupa; posisinya yang dulunya sejajar dengan Gowa menyusut menjadi kerajaan bawahan. Sejak saat itu, Gowa dan Tallo memasuki era baru di bawah bayang-bayang VOC, menandai berakhirnya masa kejayaan maritim yang telah dibangun selama berabad-abad.
Sumber:
- Purnama H.L. (2014) Kerajaan Gowa Masa Demi Masa Penuh Gejolak. Makassar. Arus Timur.
- langsung dari kompleks makam sultan hasanuddin.