Mengenal Sultan Hasanuddin, Pahlawan Pemberani dari Timur Nusantara
Sultan Hasanuddin yang bernama lengkap Muhammad Bakir I Mallombasi Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangape lahir pada 1629 di Gowa, Sulawesi Selatan. Ia adalah putra Raja Gowa ke-15, Sultan Muhammad Said, dan menjadi Raja Gowa ke-16. Pada awal pemerintahannya, Kerajaan Gowa merupakan kerajaan maritim terkuat di Nusantara. Ia memperluas wilayah kekuasaan, mengembangkan perdagangan, dan melakukan reformasi administrasi serta militer. Keberanian dan keteguhannya dalam melawan penjajah Belanda membuatnya dijuluki “Ayam Jantan dari Timur.”
Ketika VOC berupaya memonopoli perdagangan di wilayah timur, Sultan Hasanuddin memimpin serangkaian peperangan besar, terutama Perang Makassar (1666–1669). Namun, kekuatan Belanda yang didukung sekutunya, termasuk Arung Palakka, membuat posisi Gowa terdesak. Pada 18 November 1667, ia dipaksa menandatangani Perjanjian Bongaya yang merugikan kerajaan. Meskipun telah terikat perjanjian, Sultan Hasanuddin berusaha kembali mengangkat senjata, tetapi pada 12 Juni 1669, Benteng Somba Opu, benteng utama Kerajaan Gowa, jatuh ke tangan VOC.
Kekalahan itu membuatnya turun tahta pada 1669, namun ia tetap menolak bekerja sama dengan Belanda. Sultan Hasanuddin wafat pada 12 Juni 1670 di usia 39 tahun, dan dimakamkan di Katangka, Gowa.
Atas jasa dan pengorbanannya membela kedaulatan, Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 6 November 1973 melalui Keputusan Presiden No. 087/TK/1973. Namanya diabadikan menjadi nama universitas, bandara, kodam, kapal perang, jalan, dan monumen di berbagai tempat di Sulawesi Selatan, meninggalkan warisan perjuangan yang abadi bagi bangsa.
Sumber:
- Muhtamar, S. (2015). Taktik Perang Damai Sultan Hasanuddin Makassar: Arus Timur.
- Langsung dari makam kompleks sultan Hasanuddin